KARAKTER

Penonton akan tertarik menyaksikan sebuah film kalau tokohnya menarik. Artinya, tokoh cerita bukanlah tokoh biasa namun dapat diterima oleh penonton.

Apakah tokoh itu harus riil?
Siapa yang bisa bilang tokoh Rambo, McGyver, atau tokoh James Bond itu riil? Mereka hanya diterima oleh imajinasi penonton saja. Justru tokoh yang betul-betul nyata terkadang malah sulit diterima penonton karena tidak adanya informasi yang mendukung yang dapat membuatnya menarik.
Penonton bisa dibuat tertarik pada tokoh apabila karakterisasi tokoh yang dibuatnya jelas. Secara umum pokok informasi mengenai tokoh yang perlu diungkapkan kepada penonton adalah meliputi:
1. ciri khas fisik/biologis
2. ciri khas psikis
3. ciri khas pikiran
4. ciri khas kultural

Ciri Khas Fisik/Biologis

Ciri khas fisik yang dimaksud adalah meliputi nama, usia, tinggi, bobot, kekhususan fisik, tongkrongan, gerakan tubuh, ekspresi wajah…
Nama orang juga terkadang bisa menjelaskan etniknya dan mungkin juga menunjukkan asal suku dan tingkat sosialnya. Nama Kris Patikawa segera bisa diketahui oleh hampir semua penonton dari mana daerah asalnya, apalagi Pardjo Legowo. Coba tebak asal daerah Edi Silitonga, Andi Azis, dan Putu Wijaya.

Nama
Nama Sarimin, bagi suku Jawa menunjukkan dia berasal dari keluarga bawah, berbeda dengan nama Joyokusumo. Nama Ahmad, Aisyah, dan sebagainya menunjukkan tokoh itu dari keluarga yang dekat dengan agama Islam. Karakter yang menggunakan nama depan nama Barat, memiliki kecenderungan Kristiani, apalagi jika memiliki nama baptis. Robert Tanumiharja atau Michael Bunawan bisa diduga berasal dari etnik Cina, karena mengadaptasi marga Tan dan Bun.
Maka pemberian nama pada tokoh (fiktif) harus dipertimbangkan untuk bisa memberikan dampak pemahaman dari penonton kepadanya. Nama itu harus mudah diucapkan oleh pemain. Nama yang susah diucapkan membuat tidak begitu jelas keluar dari mulut aktor. Hindari nama-nama pelaku dalam satu film yang hampir bersamaan bunyinya, bisa menimbulkan kerancuan mendengarnya, seperti nama Elin dan Elen, atau ada dua karakter dengan nama Putri dan Fitri.

Usia
Segi usia dalam skenario penting diungkapkan. Supaya si pembaca, entah sutradara entah pemain, bisa membuat penafsiran atas sikap dan cara respons yang sesuai. Karena Ani yang berusia 17 tahun akan berbeda sikap lakunya di hadapan pegawai bapaknya yang keren dibanding dengan Ani yang berusia 30 tahun.
Penentuan usia pemain ini harus didukung juga oleh segala bentuk action si pelaku yang sesuai. Artinya kalau pelaku Fitri ditentukan berusia 35 tahun dan psikisnya normal, maka segala tingkah lakunya haruslah menggambarkan wanita normal lazimnya dalam usia itu. Lain lagi kalau ditetapkan bahwa dia genit, tapi genitnya itu pun harus genit usia 35 tahun. Kalau dia centil seperti anak 17 tahun, orang akan bilang karakter tersebut lemah.

Fisik
Berapa tinggi, bobot, dan kekhususan bentuk fisik pelaku juga penting diterapkan dalam skenario. Tinggi, pendek, kerempeng, bahenol, langsing, semampai, buntek, gempal, akan sangat memengaruhi sikap seseorang. Yang bertubuh buntek biasanya tahu diri, maka kalau dia berlaku genit, maka karakter tersebut memiliki kecacatan, jika tidak membuat jengkel penonton. Pria yang berpotongan tegap atau wanita yang potongan tubuhnya indah, akan nampak lebih percaya diri. Tapi tentu bisa saja yang bertubuh tegap, oleh kelainan psikis, tongkrongannya jadi agak letoy. film Seven Samurai membuat tokoh dengan dimensi tebal dengan membuat tokoh kerempeng namun ahli bertarung.
Penampilan sangat penting untuk dijelaskan, karena tinggi, kurus, pendek, hanya informasi sektoral. Penampilan adalah totalitas yang bisa mewakili kepribadian si tokoh. Bisa saja yang fisiknya kurang, memberikan penampilan simpatik dan mengesankan, sedang yang berparas ganteng dan tubuh atletis, berpenampilan menjengkelkan.

Gerakan Tubuh
Gerakan action pelaku seringkali tidak dicantumkan dalam banyak skenario kita. Hingga berhalaman-halaman skenario isinya hanya dialog, seperti dalam naskah sandiwara. Sebetulnya dalam adegan percakapan harus dicantumkan bagaimana cara dialog diucapkan dan bagaimana respons yang diberikan dalam action. Ketika Nurdin melontarkan ucapan hinaan pada Pardjo, pihak yang dihina ternyata tenang saja, maka penonton akan membuat penafsiran yang penting pada Pardjo. Pertanyaan bisa saja dijawab lawan bicara dengan action, tidak usah dengan dialog lagi. Pemain bisa disuruh bergerak untuk mengambil tempo untuk menjawab, atau menunda menjawab untuk meningkatkan ketegangan.

Ekspresi Wajah
Ekspresi wajah adalah cerminan seluruh kondisi psikis seseorang. Bahakn juga kondisi kesehatannya. Paling tidak perlu dijelaskan apa ekspresinya secara garis besar dan kalau ada yang khas. Seperti ekspresi garang, menakutkan, sejuk, keruh. Bisa juga digabungkan ekspresi wajah dengan kondisi yang bertentangan dengan kejiwaannya. Umpamanya, seseorang diketahui tukang fitnah, tapi wajahnya selalu ditampilkan ramah penuh senyum. Tapi tentu si aktor harus bisa menjelmakan wajah selalu senyum dan penonton tetap mampu menangkap bahwa tokoh yang diperankannya itu tukang fitnah. Sorot mata juga jadi memiliki peran penting. Penulis skenario harus mencantumkan secara baik uraian yang bisa dihidupkan oleh aktor yang memainkan peranan bersangkutan, sehingga penonton bisa memberikan persepsi yang tepat, meski tanpa bantuan dialog.

Ciri Psikis

Ciri yang harus dijelaskan dalam lingkup ini adalah mengenai kondisi psikis secara umum, mengenai watak, temperamen, kemampuan imajinasi, dan sensitivitasnya.

Kondisi Umum
Kondisi psikis secara umum adalah apakah kondisi psikisnya stabil atau mengalami gangguan.
Gangguan yang menghasilkan pribadi agak pembimbang, atau agak impulsif, maka ketergangguan itu dipandang biasa saja. Tapi perlu diungkapkan dalam ciri gerak fisik, seperti sering mengedipkan mata, atau sering menghapus tangannya dengan saputangan karena telapak tangannya selalu basah, atau cepat menjadi gagap. Terutama kalau dia sedang menghadapi ketegangan. Memasukkan gerakan-gerakan tidak lazim sebagai gambaran psikis yang dialami pelaku cerita, bisa merupakan ciri unikum tokoh yang bersangkutan.
Orang yang sensitif, maksudnya adalah yang pernah mengalami goncangan psikis yang amat kuat, yang sangat tidak enak, yang memberikan bekas sangat dalam pada kondisi psikisnya. Dia menjadi terlalu perasa, gampang tersinggung. Mungkin juga gampang meledak. Namun dalam keadaan tenang, dia adalah manusia normal biasa.
Kalau gangguan psikis sudah agak berat, dalam istilah sehari-hari disebut sebagai “orang saraf”. Orang begini sudah tidak perlu dipertimbangkan dengan nalar biasa. Ia bisa saja kalap karena disebabkan oleh ejekan yang tidak seberapa.
Kalau sudah terjadi “keretakan” penderita yang nilainya paling rendah disebut dengan istilah “bocor halus.” Artinya, terkadang ia tidak bisa lagi mengontrol perilakunya yang tidak wajar. Dengan bangga ia menceritakan kepada teman-temannya bahwa gadis tetangga jatuh cinta kepada dia. Ia memasang foto Tamara Blezinski di kamarnya, apabila akan pergi dengan serius, ia meminta izin kepada Tamara. Tapi untuk dalam hal lain, ia biasa-biasa saja.

Bakat
Bakat adalah kemampuan seseorang yang diturunkan, pembawaan lahir, seperti bakat seni, bakat memimpin, berdagang. Artinya, orang-orang ini mudah saja bekerja dibidang yang disebutkan. Orang yang berbakat penyanyi, sudah enak saja suaranya, dilatih sedikit ia akan jadi hebat, sesuai dengan tingkat bakatnya. Mungkin ibu atau neneknya dulu penyanyi.
Hal bakat ini sesuatu yang sudah lazim diketahui orang secara umum. Kalau penonton tahu bahwa gadis kecil Lola yang tidak berbakat menyanyi, suaranya sumbang, dipaksa ibunya ikut les menyanyi supaya bisa menjadi seperti Inul Daratista, maka penonton segera bisa menduga akan terjadi bencana bagi Lola.

Kemampuan Imajinasi
Kemampuan imajinasi sebetulnya bakat juga, tapi orang pisahkan karena hal ini mungkin bisa dimiliki hasil usaha memperluas wawasan dan sebagainya, hingga ia mampu mengimajinasikan produk baru atau bentuk usaha baru. Tapi, para penemu baru yang besar pasti pada dirinya memiliki bakat.
Seorang lurah desa yang mempunyai kemampuan imajinatif, punya banyak ide untuk mengembangkan desa dan masyarakatnya dengan menggunakan swadaya yang ia ciptakan sendiri. Sedang, lurah lain yang sarjana tapi tidak punya imajinasi, hanya banyak mengeluh karena dana pembangunan yang ia terima terlalu kecil.

Kepekaan
Orang yang memiliki kepekaan adalah orang yang mudah merasakan gejala yang ia hadapi. Gampang memahami bahwa tetangganya merasa terganggu oleh keluarganya. Atau ia gampang merasakan penderitaan orang-orang sekitarnya.
Sepasang orang tua bisa saja menjadi tidak sensitif, tidak bisa merasakan penderitaan dan kesepian yang dialami anaknya, karena keduanya terlampau sibuk dengan urusan masing-masing. Ketidakpekaan orang tua serupa itu sama sekali tidak normal. Semua orang tua di desa yang masih normal, pasti tidak bisa membenarkan ketidakpekaan orang tua pada anaknya. Karena, lazimnya orang tua pasti akan sangat sayang pada anaknya. Terutama ibu. Ketidakpekaan yang demikian pasti disebabkan goncangan-goncangan psikis yang besar dari kondisi hidup kota besar yang keras.
Sifat peka ini dipisahkan dari sensitif, yang sebetulnya memiliki pengertian yang sama. Namun, sifat sensitif yang saya singgung lebih dahulu adalah untuk menunjuk sifat yang terlalu perasa. Seorang teman akan bilang supaya jangan bicara sembarangan pada Abdul, karena dia orangnya sensitif. Artinya cepat tersinggung.

Watak Yang Penting
Watak adalah sifat yang menetap pada seseorang, seperti: rajin, pemalas, pemarah, pemalu, tidak tahu malu, penyabar, ekstrovert (introvert), rendah diri, sombong, PEDE (percaya diri yang rendah/tinggi/berlebihan, dan semacamnya). Watak dibentuk oleh pembawaan dan pengaruh yang diterima sepanjang usianya. Yang perlu diungkapkan dalam cerita tentulah watak yang penting saja dari tokoh cerita, yang punya kaitan dengan cerita. Pembawaan diterima dari orang tua. Sedang, pengaruh itu meliputi pendidikan, pengalaman senang dan susah, pengaruh-pengaruh yang kuat yang diterimanya, pengaruh lingkungan hidup, lingkungan pekerjaan, lingkungan hobi, dan sebagainya.
Pembawaan si Abdul sebetulnya pemberani, bapaknya bekas mandor perkebunan, jagoan, tapi oleh begitu banyak pengalaman pahit, maka ia menjadi penakut dan pesimistis.
Begitu juga seseorang itu pada dasarnya anak baik, karena orang tuanya dari lingkungan agama yang kuat. Tapi pengaruh lingkungannya sangat kuat karena ia ikut bibinya merantau ke Jakarta sejak kecil. Ia menjadi gadis cantik yang sangat ambisius, mengagungkan kecantikannya. Terkadang mengenakan jilbab, tapi hal itu dia lakukan lebih sebagai mode untuk sesekali tampil beda. Aneka pengaruh yang membentuk watak itu membutuhkan waktu yang lama, maka perubahan watak seseorang tidak bisa terjadi seketika. Tidak bisa seseorang yang berwatak jahat dan kejam tahu-tahu berubah begitu saja menjadi seseorang yang ramah dan baik hati. Perubahan watak memerlukan waktu dan penyebab yang kuat. Dalam perjalanan akan menjadi baik itu harus terjadi jatuh bangun. Bahkan, sesudah menjadi baik pun, pada tahun-tahun pertama sesekali masih akan kambuh.

Semangat hidup
Orang bersemangat hidup tinggi akan berjuang mati-matian dalam mencapai cita-citanya. Tapi yang semangat hidupnya lemah, gampang patah ketika menghadapi hambatan. Artinya, semangat hidup berkaitan langsung dengan kekuatan action seseorang. Maka, sangat perlu diungkapkan dalam skenario, terutama dengan contoh tindak-tanduk, agar penonton bisa melakukan antisipasi yang baik tentang bentuk perjuangan yang akan dilakukan oleh tokoh dalam melawan hambatannya.

Ciri Khas Kultural

Ciri ini meliputi asal etnik dan lingkungan budaya yang sangat mempengaruhi seseorang, tata nilai kebudayaan yang ia anut, serta falsafah budayanya.

Ciri Etnik/Suku
Beberapa suku di negeri kita sudah beberapa kali diperkenalkan oleh film bioskop atau film televisi, maka sudah agak dikenal. Seperti ciri khas suku batak, Minang, Sunda, Jawa, Makasar, Madura. Cuma yang diberikan oleh film itu hanyalah sisi tertentu saja. Umpamanya, orang Madura suka carok, agak galak. Padahal, banyak ciri khas lain yang menonjol dibanding suku lain, umpamanya, ketaatan pada agama, kesetiakawanan, pekerja keras.
Maka, memfilmkan pelaku suatu suku tertentu masih perlu didahului oleh penelitian dan survei ke daerahnya untuk menemukan ciri khas anggota masyarakat suku tersebut. Jangan hanya mengambil contoh orang Batak atau Makasar yang tinggal di Jakarta. Masih banyak ciri, baik tata nilai, cara hidup, falsafah asli masing-masing suku bangsa yang perlu diungkapkan melalui film, untuk memperkaya warna perfilman kita dan memperkaya pengetahuan bangsa akan makna Bhinneka Tunggal Ika bangsa kita.
Ciri gabungan suku juga perlu diungkapkan. Tokoh berasal dari etnik Jawa, tapi dibesarkan di Sumatra Utara, akan mengalami pengaruh dari dua sub kultur. Penonton perlu tahu adanya pencampuran agar bisa memahami kenapa orang yang bernama Suparto tapi dialek bicara seperti orang Medan, sikapnya keras, tapi sangat menghormati orang tua. Beberapa ciri kultural ini ada yang sudah dikenal oleh penonton Indonesia. Seperti pandai bicara dan pandai berdagang pada orang Minang, pandai menyanyi pada suku Ambon, memelihara budaya leluhur pada suku Jawa, dan sebagainya.

Tata Nilai
Tata nilai atau value system yang dianut oleh seseorang adalah dari budaya yang paling besar mempengaruhinya. Meskipun Suwarno lahir dan besar di perkebunan Sumatra Utara, ia tetap menggunakan tata nilai Jawa. Karena budaya Jawa sangat kuat, lagipula dia dibesarkan di kalangan masyarakat Jawa-Deli. Tapi kalau suku Jawa ini dibesarkan oleh keluarga Cina, besar kemungkinan cara berpikir Cina-nya lebih dominan. Orang ini akan memilih profesi sebagai pengusaha, ia memberikan penghargaan tinggi kepada uang. Falsafah hidup yang digunakan juga falsafah dagang Cina perantauan. Karena Hoakiaw di Nusantara ini terlatih selama berabad menghadapi aneka bahaya dari sana-sini, mereka menjadi ulet sekali dan harus berani mengambil resiko besar.
Tata nilai yang paling berpengaruh pada semua suku di Indonesia adalah Tata Nilai Agama yang mereka anut. Seorang penjahat yang beragama apapun meyakini bahwa berbuat dosa itu salah, akan dihukum oleh Tuhan.

Sumber: Teknis Menulis Skenario Film Cerita oleh H. Misbach Yusa Biran
http://idecerita.blogspot.com

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s